Headlines News :
Home » , » Melirik Tradisi Pasar Tradisional Peunayong Aceh

Melirik Tradisi Pasar Tradisional Peunayong Aceh

Written By Fuad Heriansyah on Monday, November 5, 2012 | 8:11:00 AM


 
Membicarakan tentang pasar akan mendapat perhatian khusus ketika merujuk kepada pasar tradisional. Pasar tradisional tidak hanya kita jumpai di kota-kota besar, namun di banyak tempat termasuk di wilayah Aceh. Pasar tradisional selain menjadi pusat distribusi barang dan jasa ditempat ini terjalin hubungan silaturrahmi antara pedagang dan pembeli. Pasar tradisional menjadi pasar tersibuk sepanjang waktu. Umumnya pasar ini sudah mulai dibuka sejak pukul 4 dinihari. Tidak hanya mereka yang memiliki modal besar, Nyak-nyak (nenek yang telah lansia) dengan modal seadanya mereka dapat menggelar lapak di emperan toko bahkan terkadang sampai ke badan jalan, tidak jarang mereka harus bersitegang dengan Satuan Polisi Pamong Praja.

Di Banda Aceh terdapat banyak pasar tradisional, salah satunya di Peunayong. Pasar ini menjadi salah satu pusat pasar tersibuk di kota Banda Aceh. Terlebih lagi ketika meugang (tradisi memiliki daging di hari lebaran) idulfitri dan idul adha pasar ini dipadati oleh warga. Pasar yang terletak di pinggir krueng (sungai) Aceh ini menjadi pasar yang paling banyak dikunjungi pembeli dibandingkan dengan pasar pasar lainnya yang ada di kota Banda Aceh.

Tidak hanya terdapat aneka ragam sayur-sayuran, pasar Peunayong menjadi alternatif bagi warga untuk membeli ikan segar hasil tangkapan nelayan Lampulo, yang dikenal sebagai tempat pendaratan Ikan (TPI) terbesar di Banda Aceh. Jika hasil tangkapan melimpah ikan ini juga di ekspor keluar Aceh utamanya ke beberapa negara di Asia Tenggara, Jepang dan juga Amerika, ungkap Usman yang akrab disapa Pak Man yang menjadi Ketua Asosiasi Pedagang Ikan Lampulo Banda Aceh kepada redaksi Pascadunia.

Ketika anda berbelanja ke pasar Peunayong anda bisa mengamati aktifitas pedagang di pasar ini. Anda bisa mengambil pelajaran dari aktifitas pasar yang menjadi penopang perekonomian warga. Anda bisa melihat semangat untuk menghidupkan ekonomi tanpa mengenal usia dari nyak-nyak yang telah renta. Ketika Pascadunia menanyakan asal mereka, kebanyakan dari mereka berasal dari Tungkop dan wilayah di pedalaman Aceh besar.

Dalam hal melariskan, mereka saling membantu menjual barang dagangannya, kendati pun dalam beberapa lapak mereka gelar memiliki jenis barang yang sama, tidak serta saling merebut pembeli, Ini budaya kebersamaan mestinya patut diteladani, dan bisa di implimentasi dalam berbagai dimensi kehidupan masyarakat. Budaya seperti ini memiliki nilai positif membangun kebersamaan antar sesama warga khususnya antar para pedagang. Begitu juga semangat yang diperlihakan Ibu-Ibu lanjut
usia ini kendatipun terik mentari menyengat mereka tetap bersabar menunggu pembeli, ini patut kita contoh bagaimana semangat dalam berusaha untuk memperoleh rezeki, untuk menopang kebutuhan dirinya dan keluarganya. |Sumber|

Share this article :

0 komentar:

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Visit Aceh - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Fuad Heriansyah
Copyright ©