Headlines News :
Home » , » Tewasnya Gadjah Mada di Kerajaan Aceh Tamiang

Tewasnya Gadjah Mada di Kerajaan Aceh Tamiang

Written By Fuad Heriansyah on Thursday, November 29, 2012 | 11:09:00 PM

Sumber Foto: Wikipedia
Oleh: M. Anzaikhan

Aceh kaya dengan kisah yang melegenda, kisah rakyat banyak yang belum tertulis dan atau diketahui secara meluas. Dalam kisah kisah yang dituturkan oleh rakyat umumnya sarat makna sebagai cerminan filosofi kehidupan mereka. Demikian juga halnya dengan asal usul negeri Tamiang dan bagaimana perseteruan antara Raja dengan pasukan Maja Pahit dan terkoneksi dengan kabar Putri Raja yang jelita, akankah menjadi pertimbangan spesifik da pasukan Gajah Mada, itulah hal terusik dar menelusuri legenda ini. 
 
Gajah Mada
Tamiang pada awalnya merupakan satu kerajaan yang pernah mencapai puncak kejayaan dibawah pimpinan seorang Raja Muda Setia yang memerintah selama tahun 1330 – 1366 M. Pada masa kerajaan tersebut wilayah Tamiang dibatasi oleh daerah-daerah :
  1. Sungai Raya / Selat Malaka di bagian Utara
  2. Besitang di bagian Selatan
  3. Selat Malaka di bagianTimur
  4. Gunung Segama ( gunung Bendahara / Wilhelmina   Gebergte ) di bagian Barat.

Asal usul Tamiang
“Tamiang” adalah sebuah nama yang berdasarkan legenda dan data sejarah berasal dari “Te – Miyang” yang berarti tidak kena gatal atau kebal gatal dari miang bambu. Hal tersebut berhubungan dengan cerita sejarah tentang Raja Tamiang yang bernama Pucook Sulooh, ketika masih bayi ditemui dalam rumpun bambu Betong (istilah Tamiang bulooh) dan Raja ketika itu bernama Tamiang Pehok lalu mengambil bayi tersebut. Setelah dewasa dinobatkan menjadi Raja Tamiang dengan gelar Pucook Sulooh Raja Te – Miyang, yang artinya seorang raja yang ditemukan di rumpun rebong, tetapi tidak kena gatal atau kebal gatal.

Sumber lain, mengapa dikatakan -Tamiang- karena raja pertama tersebut memiliki pipi yang sebelah hitam yang disebabkan oleh miyang bambu (rumpun bambu yang gatal). Jadi “Tam” berarti hitam dan “Miyang” berarti rumpun bambu. Maka dijadikanlah sejarah nama daerah tersebut dengan nama “Tamiang”.

Tidak ada yang tahu secara pasti kapan Raja Muda Setia wafat. Alkisah menceritakan, ketika musuh memasuki wilayah kerajaan. Raja sedang asyik bermain cantur dengan istrinya. Tidak lama dari itu, burung beo selaku hewan kesayangan Raja menginformasikan bahwa ada pihak musuh yang mendekat. Berhubung Raja merasa sudah memperkuat barisan pertahanan pintu masuk, maka sedikitpun tidak ada kecemasan mengingat laporan apapun belum didengar dari para pasukan terpercayanya. Sehingga perkataan seekor hewan diacuhkan kendatipun sang istri telah mengingatkan.

Melalui tokoh hebat pada masa itu, musuh masuk melalui jalur yang tidak disangka-sangka. Yakni jalur rimba yang tak mungkin dilalui oleh orang sembarangan. Mereka melakukan perjalanan menggunakan perahu yang berjalan didaratan. Tampak perahu yang mendekat pada istana membuat jalan yang dilintasinya terbelah dan berubah menjadi sungai. Mungkin inilah asal mula sungai Tamiang khususnya yang berhaluan di Desa Benua Raja.

Dengan memasukkan istrinya ke dalam kendi kecil seukuran kantung. Raja Muda Sedia beserta Permaisuri Potuan Suri Meuru Meligai dan beberapa pengawal berhasil menyelamatkan diri berlayar kearah hulu sungai di kaki Gunung Senggama dengan menggunakan daun keladi sebagai perahu yang juga melaju didaratan. Tapak keladi itu menjadi anak sungai yang menjadi bukti nyata bahwa sang Raja memang berada didaerah tersebut.

Putri Raja yang Jelita dan Madja Pahit

Raja Tamiang memiliki seorang putri yang sangat cantik permai. Dialah yang bernama Potuan Putri Meuga Gema yang lebih dikenal dengan Putri Rindu Bulan. Pesona kecantikannya mampu membuat siapa saja lupa akan indahnya rembulan. Sehingga wajarlah jika julukan Lindung Bulan melekat padanya. Dikemudian hari nama itu dinobatkan menjadi SMU Negeri 1 Kejuruan Muda dengan nama SMU Lindung Bulan yang terletak di Kampung Durian Kecamatan Rantau Aceh Tamiang.

Putri Rindu Bulan yang dikabarkan akan ditunangkan dengan pangeran kerajaan Perlak menjadi sorotan raja-raja dibeberapa kerajaan untuk mempersunting tak terkecuali Patih kerajaan Maja Pahit yang dikenal dengan sumpah palapanya, Gadjah Mada.
Menurut lisan leluhur, sebab umum pasukan Maja Pahit yang memasuki kawasan Aceh Tamiang dikarenakan panglima tersebut hendak mempersatukan Nusantara hingga rela tak mengkonsumsi buah kelapa. Namun dibalik itu ternyata sebab khususnya adalah karena lelaki yang dipercaya sebagai pemersatu bangsa itu terpikat atas keindahan dan kecantikan putri bungsu Raja Muda Sedia yaitu Putri Lindung Bulan untuk dijadikan hadiah bagi sang raja, Prabu Hayam Wuruk.

Alkisah disuatu masa setelah Gadjah mada mengucapkan Sumpah Palapa untuk menyatukan nusantara, maka Gadjah Mada beserta pasukan kerajaan Maja pahit yang jumlah nya ribuan menyerbu raja-raja yang berkisar kepulauan Jawa. Setelah puas dengan kemenangannya maka Madja Pahit segera menyebar ke kawasan pulau sumatera dan pulau-pulau lainnya, saat itu hampir keseluruhan pulau sumatra dikuasai oleh kerajaan Aceh, yang menaungi kerajaan-kerajaan kecil lainnya.

Satu persatu kerjaan dari palembang, padang tumbang dihancurkan dan ditaklukkan oleh sang Panglima Gadjah Mada. Suatu hari tibalah pertarungan oleh Pasukan kerjaan Maja Pahit dengan Pasukan kesultanan Deli, namun kesultanan Deli tidak mampu bertahan lama dan akhirnya juga takluk.

Pasukan Gajah Mada terus menjelajah, selanjutnya penyerangan itu berlanjut ke Tamiang dengan berpangkalan di daerah Manyak Payet. Penyerangan berawal ketika Putri Bungsu Lindung Bulan yang kecantikannya luar biasa itu tersiar ketelinga Patih Gajah Mada. Karena pinangan itu ditolak oleh Raja Muda Sedia, Gajah Mada merasa tersinggung lalu menyerang Karajaan Benua Tamiang.

Untuk mengantisipasi hal tersebut maka dikirimlah seorang utusan ke kuta radja untuk meminta bantuan bala tentara. Sultan Aceh menyetujui mobilisasi pasukan khas didampingi oleh 7 panglima perang yang kononnya punya ilmu kebal. Selang bebarapa minggu berhadapanlah pasukan Gadjah Mada dengan pasukan Kerajaan Aceh yang dipimpin oleh Panglima Hantom Manoe. Hantom Manoe bukanlah nama aslinya, melainkan nama yang diambil dari kata hana mano sebab panglima tersebut dilarang mandi guna menjaga kekebalan tubuhnya.

Perang berkecamuk dengan hebatnya selama tujuh hari tujuh malam, dan akhirnya Gadjah Mada terbunuh ditikam oleh panglima Kerjaaan Aceh. Dan pasukan kerajaan Maja Pahit mundur teratur untuk balik ke kampungnya dan meratapi kesedihan akibat kekalahan. Untuk mengenang kemenangan kerajaan aceh terhadap pasukan Gadjah Mada dari kerajaan Maja Pahit tersebut, maka kampung/ lokasi tempat pertempuran di daerah Aceh Tamiang tersebut dinamakan menjadi kampung Manyak Pahit, adobsi dari nama kerajaan Maja Pahit. Kampung ini sampai sekarang masih ada di Aceh Tamiang tidak jauh dari kampung Pahlawan kecamatan Karang Baru.

Maja Pahit diambil dari buah maja yang pahit, namun oleh panglima kerajaan aceh kawasan tersebut dipelesetkan menjadi Manyak Pahet, yang artinya anak kecil yang pahit. Mungkin cuma untuk menunjukkan bahawa Gadjah Mada dan pasukannya terhenti di Kawasan ini, ataupun mungkin karena dialek orang Aceh yang kesusahan untuk mengucakan kata-kata Maja Pahit secara fasih dan akhirnya menjadi Manyak Pahet.
Pada cerita rakyat pada umumnya, Gadjah mada menghilang karena menuju Nirwana (terbang kesurga akibat bertapa dan menjadi dewa) namun hal tersebut menurut pengalaman lisan leluhur Aceh Tamiang; merupakan kedok dari pasukan Gadjah Mada untuk menjaga moral dan nama baik agar tetap tinggi dan tidak malu akibat gagalnya Gadjah Mada memenuhi sumpah Palapa.

Tentang kebenaran cerita tersebut, siapa yang tahu jika tidak dilakukan penelitian sejarah secara lebih lanjut. Namun mendengar nama Desa Manyak Pahet dan hikayat cerita masyarakat disekitara kawasan sekiranya memang hal tersebut benar adanya. Namun sejarah Indonesia tidak pernah menceritakan apapun tentang tewasnya Gajah Mada di Kerajaan Aceh Tamiang. Yang ada hanya semangat dan sumpah palapa seorang patih Hayam Wuruk tersebut sebagai oknum yang dianggap pemersatu Nusantara.

Mohon maaf jika ada kesalahan penceritaan, kesalahan penyebutan nama dan sebagainnya. Mungkin legenda ini bisa dijadikan objek kajian para sejarawan atau pihak terkait untuk mengobservasi lebih lanjut akan kebenaran cerita sehingga memberi banyak pengetahuan dan kemasalahatan bagi orang banyak. [pascadunia]
Share this article :

13 komentar:

Muammal iqbal said...

Sjarah ini sungguh luar biasa, akan tetapi ini sngat luarbiasa lagi joka ditulis dlm sbuah buku dan diedarkan kedlm buku sejarah dlm sekolah dasar dan smp sluruh indonesia..

Fatih2012 said...

Bahkan ketika Gajah Mada dinyatakan meninggal atau moksa kata org jawa (walau ngga mungkin juga) Gajah Mada sudah bukan lagi menjabat sebagai Maha Patih dan sudah tidak punya kedudukan apa2 krn di pecat oleh Hayam Wuruk akibat insiden Bubat... jadi kalau pun Gajah Mada ke Tamiang artinya sama sekali tidak mewakili Maja Pahit.. sudah sering didalam masyarakat Indonesia pihak yang kalah ngaku2 menang... seperti orang Jawa Mataram yang mengaku menghentikan serangan ke batavia karena berhasil membunuh JP Coen.. padahal JP Coen mati karena kolera..

Ubay said...

Hikayat atau Cerita cerita rakyat di banyak daerah di Indonesia menyangkut Maja Pahit banyak membingungkan, hampir semua Daerah termasuk di pulau jawa sendiri (Jawa barat) selalu punya cerita di mana mereka berhasil mengalahkan pasukan Majapahit (Gajah Mada)misalnya cerita suku Dayak, Makassar, Aceh tamiang, Minangkabau,dan Malaka. Dua yang terakhir tidak mirip cerita perang lebih kearah bertaruh atau permainan malah Malaka mengantar seorang putri buat di persembahkan. Hanya Hikayat Samudera Pasai (aceh) yang bercerita pernah jadi taklukan Majapahit karena kesalahan sendiri. Namun bangsa Eropa sampai awal abad 16 masih menjumpai bendera majapahit yang berbentuk 9 Garis Merah putih di pasang di kapal kapal kerajaan nusantara demi keamanan perdaganan antara sesama kerajaan Nusantara. Sehingga British East India Company (EIC) yg melakukan perdagangan rempah2 di nusantara, mengadopsi bendera Majapahit itu menjadi bendera mereka dengan menambahkan gambar salib st george di sudutnya..

ardi mbetix said...

kwwkkwwk

Zulfikar Salim said...

saya punya catatan yg sama dari cerita orang-orang tua yg sama, panglima hantom mano itu juga dikatakan kuntomnoe... juga hantom mano kalu mandi maka ilmu hitamnya lenyap kira-kira.

SUKARMAN MALAYSIA said...

SAYA SEKELUARGA INGIN MENGUCAPKAN BANYAK TERIMAH KASIH KEPADA AKI NAWE BERKAT BANTUANNNYA SEMUA HUTANG HUTANG SAYA SUDAH PADA LUNAS SEMUA BAHKAN SEKARAN SAYA SUDAH BISA BUKA TOKO SENDIRI,ITU SEMUA ATAS BANTUAN AKI YG TELAH MEMBERIKAN ANKA JITUNYA KEPADA SAYA DAN ALHAMDULILLAH ITU BENER2 TERBUKTI TEMBUS..BAGI ANDA YG INGIN SEPERTI SAYA DAN YANG SANGAT MEMERLUKAN ANGKA RITUAL 2D 3D 4D YANG DIJAMIN 100% TEMBUS SILAHKAN HUBUNGI AKI NAWE DI 085-218-379-259 ATAU KLIK SITUS DANA GAIB

Dimas Yopie said...

Saya suka...
Dan di manyak payet
Terdapat nama jembatan yg di beri nama titi gajah...
Konon kata nya..
Patih gajah mada meninggal nya di situ..

wantofarhat.blogspot.com said...

Yang benar adalah gajah mada mengasingkan diri di kaki gunung lawu setelah di pecat dan di usir oleh raja hayam wuruk, dan gajah mada menetap di kaki gunung lawu tersebut sampai akhir hayatnya

Nyoman Suwidjana said...

Pelintirlah yg bisa dippelintir.
Tariklah semua nuansa peradaban tinggi masa lalu ke arah nabi sulaeman.Jgn pernah sebut agama Hindu, Buddha, ato aapun krn itu dilarang agama kita. Bohongi dan fitnahlah sejarah. Bernohong secara konsisten akan membentuk kebenaran ato paling tidak memunculkan kebingungan. Hayo kita hancurkan negeri ini. Kita yakinkan bhwa kaabah yg lebih tua sesungguhnya ada di jawa. Hayo!!!

Nyoman Suwidjana said...

Oooh ini ada Gajah Mada lagi. Lalu Gaj Ahmada itu siapa?

Chepy Rediansyah said...

Apa bedanya Gajah Mada dgn Gajah Tunggal

awaludin subakti said...

Katanya-katanya.katanya-katanya.semua katanya.bosan.ucapan yg GK bertanggung jawab

awaludin subakti said...

Klo bicara pake data & fakta jgn cm katanya.konon katanya.mmurut cerita.kpn kita mau maju klo sejarah bangsanya cm katanya,menurut cerita,konon katanya.sungguh memalukan....!!!

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Visit Aceh - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Fuad Heriansyah
Copyright ©