Headlines News :
Home » » “Hadieh maja” Meneropong Filosofi Kehidupan Orang Aceh

“Hadieh maja” Meneropong Filosofi Kehidupan Orang Aceh

Written By Fuad Heriansyah on Monday, November 5, 2012 | 8:18:00 AM

 
Berbicara tentang Aceh, pasti semua orang akan membahas seni budaya tradisinya yang begitu kental. Provinsi yang pernah menjadi pusat perhatian dunia pada musibah Tsunami 2004 silam ini menyimpan beragam kebudayaan yang begitu eksotis. Memiliki keberagaman budaya seperti seni tari, seni musik menjadikan Aceh kerap dikunjungi oleh para wisatawan dari berbagai daerah dan berbagai Negara.

Keberagaman budaya dalam tutur kata dan perilaku adalah menjadi filosofi kehidupan orang Aceh. Perihal ini bukan hanya seni tari dan musik, Aceh juga sangat identik dengan sastra atau peribahasa (seni tutur). Dari berbagai sumber, Semenjak Aceh dikenal pada abad ke-9 sastra sudah sangat berkembang di Aceh. Akan tetapi sulit menemukan jawaban yang pasti bagaimana sejarah sastra di Aceh, mengingat sangat sedikit sejarah yang mencatat secara detail bagaimana perjalanan sastra di Aceh.
Namun, sastra itu terus berkembang hingga sekarang, walaupun hanya sebahagian kecil dari masyarakat Aceh yang masih memperdulikannya.

Sastra di Aceh berkembang dalam dua bentuk, ada dalam tulisan dan juga lisan. Dalam hal ini, penulis sangat tertarik dengan sastra lisan yang berkembang di Aceh. Puisi lisan hingga sekarang masih terdengar dari mulut-mulut para seniman tutur Aceh, orang tua bahkan sering kita temukan dalam koleksi buku-buku lama. Hadieh maja/nariet maja (Peribahasa Aceh) adalah salah satu puisi lisan yang masih berkembang di bumi Serambi Mekkah. Secara bahasa hadieh/nariet bisa di artikan ungkapan atau petuah, dan kata maja berarti nenek moyang (ancestors) atau alam bahasa Aceh kita kenal dengan istilah indatu. Hadieh maja merupakan ungkapan singkat keuneubah indatu yang mengandung nilai-nilai dan filosofis kehidupan masyarakat Aceh.

Rangkaian kata yang menjadi sebuah kalimat singkat dan indah, didalamnya juga mengandung makna sangat dalam yang meliputi berbagai sisi kehidupan masyarakat Aceh. Dalam definisi lain hadih maja adalah nasehat dan petuah endatu (nenek moyang) yang mengandung nilai-nilai moral dan pendidikan keagamaan. Dari definisi di atas, bisa kita simpulkan bahwa hadieh maja merupakan representasi dari pada nilai-nilai sosial budaya dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh. Semua aspek kehidupan ada dalam ungkapan hadieh maja, baik itu tentang pendidikan, urusan rumah tangga, pemerintah bahkan keagamaan.

Seperti bunyi hadieh maja berikut ini “peutheun agama jeut ngon tameuprang, meunan fireuman Allah Ta’ala, kheun agama bek tapeuwayang, ureung taloe prang beuget tajaga” artinya : “mempertahankan agama boleh berperang, begitulah firman Allah ta’ala, pesan agama janganlah dilanggar, yang kalah perang harus kita jaga”. Bait pertama yang terkandung dalam hadieh maja di atas sangat relevans dengan firman Allah S.W.T dalam Al-quran, yang terkandung dalam surat Al-Baqarah ayat 190 yang bunyi artinya “Dan perangilah dijalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. Makna yang terkandung dalam ayat tersebut adalah, perangilah orang-orang yang memerangi kamu/orang-orang yang memerangi agama kamu. Hadieh maja di atas telah
mengadopsi perintah dalam Al-quran yaitu tentang pembelaan agama Islam “peutheun agama jeut ngon tameuprang”.

Contoh hadieh maja lainnya tentang perintah untuk tawakkal kepada Allah, yang merupakan suatu sifat yang dianjurkan oleh Allah S.W.T dan RasulNya yaitu “ureung lee malee teuntee han kanjai, ureung tewakai payah binasa” . Artinya yaitu, “orang yang mempunyai rasa malu, tidak akan konyol, orang yang tawakkal tak akan binasa (rugi)”. Dalam sebuah hadis, Rasulullah S.A.W juga pernah bersabda yaitu “Dari Umar bin Khattab R.A. berkata, bahwa beliau mendengar Rasulullah saw. bersabda,
“Sekiranya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah S.W.T dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rezeki (oleh Allah S.W.T), sebagaimana seekor burung diberi rezeki; ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang. (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah). Makna yang terkandung dalam hadis Rasulullah S.A.W tersebut adalah, jika kita benar-benar tawakkal kepada Allah S.W.T, maka yakinlah Allah akan memberi rezeki, Allah akan melindungi dan memudahkan segala urusan kita. Coba kita teliti baik-baik, antara bunyi hadieh maja/nariet maja di atas dengan sabda Rasulullah S.A.W dalam hadis tersebut mempunyai arti yang sama. Hadieh Maja di atas telah menganjurkan kita untuk selalu tawakkal kepada Allah S.W.T, dan juga disebutkan manfaat dari pada tawakkal itu sendiri.

Menurut beberapa para ahli dan dapat kita temukan juga dalam buku-buku tentang sejarah sastra atau peribahasa Aceh, hadih maja menduduki tingkat kebenaran nomor tiga dalam masyarakat Aceh. Tingkat kebenaran pertama adalah wahyu Allah Swt. Kedua, hadis Rasulullah S.A.W. Dan ketiga adalah hadih maja. Mengapa ada persepsi demikian? Karena para moyang atau indatu kita dulu banyak mengadopsi perintah-perintah dalam Al-quran dan Hadis yang kemudian dijadikan sebuah kalimat yang indah dan menjadi petuah bagi masyarakatnya, sehingga kalimat maja tersebut mudah melekat dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Dalam hadieh maja lain juga sering kita temukan tentang petuah untuk pemerintahan, seperti “Adat bak po temeurehom, hukom bak syiah kuala, kanun bak putroe phang, reusam bak laksama”. Dalam buku “Wanita Aceh dalam Pemerintahan dan Peperangan”, salah satu buku karangan Ali Hasymi ini dijelaskan bahwa hadieh maja di atas mempunyai makna yang sangat luas. Hadieh maja tersebut menunjukkan bahwa adanya pembagian kekuasaan atau sistem pemerintahan atau kerajaan Aceh Darussalam, yaitu : Kekuasaan eksekutif (kekuasaan politik dan adat) yang berada di tangan Sulthan yang disebut potemeurehom, yaitu sultan Iskandar Muda yang menciptakan sistem tersebut dan dibawah kekuasaan beliau. Kekuasaan Yudikatif (Pelaksanaan hukum) yang berada di tangan ulama, Karena Syekh Abdurrauf merupakan seorang ahli hukum dan Kadhi Malikul Adil yang amat menonjol, maka pelaksanaan kekuasaan yudikatif itu dibangsakan kepadanya yang bergelar Syiah Kuala. Kekuasaan legislatif (kekuasaan membuat undang-undang) kekuasaan ini berada dibawah Dewan Perwakilan yang dilambangkan oleh Puteri Pahang (putroe phang), karena ialah yang memberi nasehat kepada Sulthan Iskandar Muda untk membentuk Majelis Mahkamah Rakyat. Peratuan Keprotokolan atau reusam diserahkan kepada Laksamana/panglima perang Aceh. Hadieh maja di atas telah menjadi pegangan masyarakat Aceh dahulu, ini membuktikan bahwa hadieh maja mempunyai pengaruh besar dan selalu menjadi bagian dari pada kehidupan masyarakat Aceh.

Dalam aspek yang lain, hadieh maja juga kerab menjadi sindiran atau plesetan kepada orang-orang atau kepada perbuatan-perbuatan tertentu, hadieh maja bisa menjadi kritikan-kritkan sosial, dengan hadieh maja masyarakat bisa mengkritik dengan kritikan yang tidak vulgar atau mengkritik secara halus. Sebut saja salah satu contoh hadieh maja yang dimaksud adalah : “aneuk metuah, han suah jikeumira, aneuk paleh, bak ji eh han jaga” (anak yang baik, tidak harus membuat perhitungan, anak celaka susah dibangunkan). Hadieh maja tersebut merupakan sindiran keras untuk orang tua. Dimana didalamnya terkandung kritikan dan juga peringatan tehadap orang tua agar mendidik anaknya dengan baik, menjadi anak yang taat dan baik akhlaknya.

Dalam hadieh maja lain juga sering kita dengar yaitu : “Bubei dua jab, seurekap dua muka, kenoe pih toe, keudeh pih rab, bandua pat meutemee laba”. Ini adalah ungkapan yang mungkin sangat lazim kita dengarkan. Maksud yang terkandung dalam ungkapan hadieh maja tersebut merupakan sindiran kepada orang yang berada di dua pihak yang berlawanan, dan mencari keuntungan dari dua pihak tersebut. Bukan hanya sindiran seperti ini, namun masih sangat banyak sindira-sindiran lain dalam ungkapan hadieh maja terhadap orang-orang yang bersikap yang tidak sesuai dengan norma-norma kehidupan masyarakat Aceh.

Di zaman modern sekarang, ungkapan-ungkapan hadieh maja telah pudar dalam masyarkat. Dengan pengaruh akulturasi budaya yang beragam, hadieh maja sudah terbelakangi dan sering dilupakan dalam percakapan sehari-hari, padahal didalamnya sangat banyak mengandung nasehat, petuah yang bisa dijadikan sebagai pedoman masyarakat, seperti yang sudah dilakukan oleh orang-orang sebelum kita. Sudah saatnya kita gali kembali ungkapan hadieh maja yang mungkin telah kita abaikan, ungkapan-ungkapan yang mempunyai makna yang sangat menyentuh yang meliputi semua aspek kehidupan masyarakat Aceh. Namun sungguh disayangkan, mungkin sebahagian dari kita sudah melupakannya dan sangat jarang kita aplikasikan dalam kehidupan kita. Mari kita lestarikan kembali untuk bahan renungan kita bersama, dan menjaga keuneubah indatu tersebut dan bisa kita wariskan kepada anak cucu kita, “meunyo kon ie leuhob, menye kon droe teuh bandum gob”.

*Penulis adalah pelaku seni di Banda Aceh; Penyair di Sanggar Seni Seulaweuet, Mahasiswa Program Pasca Sarjana di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. |Sumber|
Share this article :

0 komentar:

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Visit Aceh - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Fuad Heriansyah
Copyright ©