Headlines News :
Home » » Mengenang Tragedi Tsunami Menggulung Aceh

Mengenang Tragedi Tsunami Menggulung Aceh

Written By Fuad Heriansyah on Sunday, June 9, 2013 | 10:39:00 AM

Gambar Sebelum Penambahan

Banda Aceh - Awalnya, pengunjung Museum Tsunami Aceh terlihat ceria. Mereka bercanda, berfoto di luar museum. Tapi begitu masuk, mereka tercekat dan terbawa suasana duka mendalam. Inilah tragedi kemanusiaan yang dikenang zaman.


Seperti itulah yang terjadi saat saya dan rombongan berkunjung di Museum Tsunami Aceh, Kamis (25/10/2012) lalu. Sambil memanfaatkan waktu dibukanya museum, tak sedikit pengunjung yang bergantian berfoto di dekat helikopter milik Polda Aceh yang rusak parah akibat disapu tsunami 8 tahun silam.
 
Wisatawan Mengambil Gambar Bangkai Tsunami

Bangkai helikopter kini dipajang di dekat pintu masuk museum. Mereka tersenyum dan jepret! Gambar dengan background sisa tsunami pun sukses didapatkan.

Tepat pukul 14.00 WIB, petugas membuka pintu masuk. Satu per satu pengunjung masuk. Jeritan penanda takut muncul saat mereka memasuki lorong yang hanya diterangi dari cahaya luar di ketinggian 40 meter.
Lorong Tsunami Di Mesium (Aceh)

Air mengucur deras di tembok kanan kiri di lorong selebar dua meter itu. Sesekali air memercik ke kepala dan tubuh pengunjung. Alunan ayat-ayat suci Alquran terdengar jelas. Suaranya menggema, memenuhi lorong gelap.

Para pengunjung mempercepat langkah, seperti ingin segera hengkang dari lorong tersebut. Karena bentuk lorong sedikit melingkar, maka ujungnya pun tak kelihatan.

Setelah 'menempuh' jarak kurang lebih 20 meter, di ujung lorong terdapat ruangan yang disebut Memorial Hall. Ruangan temaram ini berisi dokumentasi dalam bentuk elektronik. Pengunjung hanya tinggal berdiri, maka slide-slide foto akan bergerak otomatis di 26 monitor. Jumlah ini merujuk pada tanggal terjadinya tsunami, 26 Desember.
 
Ruang Gambar Audio
Di sebelah Memorial Hall terdapat ruang doa yang bentuknya lingkaran seperti cerobong. Namanya The Light of God. Kian ke atas, kian menyempit. Lagi-lagi hanya gelap yang didapati pengunjung. Cahaya hanya diperoleh dari lampu remang dan ujung cerobong berupa kaca tembus pandang. Di atas cerobong tertulis Allah dalam bahasa Arab. Nama-nama korban tsunami yang dipahatkan di tembok sekeliling ruangan menambah suasana duka.
Pengunkung Sedang Memperhatikan Nama Para Korban Tsunami Aceh
 Tak banyak pengunjung yang bertahan lama di lorong dan ruang gelap tersebut. Sayup-sayup ayat-ayat Al Quran masih terus terdengar. Para pengunjung segera berlalu.

"Ayo ke sana, pindah," tutur seorang perempuan pengunjung mengajak temannya yang masih membaca nama-nama korban tsunami.

Dari lorong dan ruang gelap, para pengunjung dihadapkan pada Lorong Kebingungan. Lorong melingkar-lingkar ini menggambarkan korban tsunami yang kesulitan membaca arah saat menyelamatkan diri dari terjangan air.
Lorong Kebingungan
 
Setelah 'bingung', pengunjung baru menemukan cahaya saat meniti jembatan. Di atas jembatan terdapat bendera negara-negara asing yang ikut membantu korban tsunami. Di bawahnya terdapat kolam air. Saat saya berkunjung, kolam itu kering karena tengah diperbaiki.

Di lantai dua ini, ada cafe dan ruang dokumentasi. Satu ruang untuk pemutaran film dokumenter berdurasi 15 menit mengenai detik-detik terjadinya tsunami, ruang lainnya untuk memajang foto-foto dampak tsunami dan upaya rehabilitasi.

Ruang Dokumenter Film
Untuk menonton film, pengunjung tak dipungut biaya. Namun petugas hanya akan memutar film jika ada 10 pengunjung yang ingin menonton film di bioskop mini tersebut. Ruangan itu mampu menampung kurang lebih 25-30 pengunjung. Tak perlu menunggu penuh, petugas menutup pintu begitu mengetahui ada 10 pengunjung yang siap di kursi.

"Semoga kita bisa mengambil hikmah dari tragedi ini. Dan mohon tidak mengambil gambar baik melalui video maupun foto selama pemutaran film," tutur petugas sebelum lampu dipadamkan.

Film berdurasi 15 menit tersebut menggambarkan keriuhan pasar di Banda Aceh sebelum tsunami menerjang. Kemudian air datang memasuki kota, membawa pohon, mobil, atap rumah, dan segalanya. Para penduduk berlarian. Ada yang menaiki atap rumah, masjid, dan lain sebagainya. Film ditutup gambar dampak tsunami dan upaya rehabilitasi.

Lantai 3 museum terdapat ruang multimedia. Pengunjung bisa mencoba merasakan gempa dalam beberapa skala. "Getaran dan goyangannya seperti gempa betulan," tutur salah satu pengunjung usai menjajal simulator gempa tersebut.

Menyusuri ruang demi ruang, para wajah pengunjung tampak serius. Sesekali mulut mereka ternganga saat melihat gambar korban dan dampak tsunami yang menelan ratusan ribu korban jiwa tersebut.

Museum yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2008 ini mengadopsi gaya rumah Aceh. Lantai bawah berupa area kosong, sehingga jika ada banjir atau tsunami, air akan dengan mudah mengalir. Dinding-dindingnya serupa anyaman bambu. Hanya warnanya abu-abu, sehingga berkesan dingin dan kokoh. Di bagian paling atas museum terdapat taman terbuka untuk tempat evakuasi. Desain ini merupakan karya dosen ITB, M Ridwan Kamil, yang memenangkan sayembara desain.

Tak sulit menjangkau museum ini. Letaknya di pusat kota, di dekat Lapangan Blang Padang, tepatnya di Jalan T Iskandar Muda Banda Aceh. Jika ke Ibukota Provinsi Aceh ini, Anda juga bisa mengunjungi ikon kota, Masjid Raya Baiturrahman, yang letaknya hanya 1 km dari museum.

Museum Tsunami Aceh, dijamin akan membuat pengunjungnya menahan nafas!
Berita Detikcom
Gambar Dari Berbagai Sumber 
Share this article :

0 komentar:

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Visit Aceh - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Fuad Heriansyah
Copyright ©