Headlines News :
Home » » Perjalanan Wisata ke Museum Tsunami Aceh

Perjalanan Wisata ke Museum Tsunami Aceh

Written By Fuad Heriansyah on Sunday, March 3, 2013 | 9:03:00 AM

Lama tidak mengoreskan kata di blog tersayang, kini saya kembali dengan sebuah postingan perjalanan wisata ke Museum Tsunami yang saya lakukan selama 3 hari. Perjalanan pertama dan kedua saya lakukan bersama kedua adik perempuan saya, sedangkan hari ketiga saya khususkan datang untuk melihat cerita gempa dan tsunami yang disajikan dalam 4D (film eartquake relevation). Kebetulan jarak rumah dengan Museum ini juga dekat sih, hanya 10 menit saja jika ditempuh dengan berjalan kaki . Postingan ini sebelumnya pernah dimuat di blognya @iloveaceh , sebagai bentuk kontribusi saya kepada blog tempat kami masyarakat Aceh berkumpul dan berbagi cerita seputar Aceh. Hanya saja disini ada sedikit tambahan tentang film 4D. Tanpa memperbanyak basa basi lagi, mari langsung saja kita telusuri bersama, bagaimana sih perjalanan wisata saya di Museum Tsunami ini, yuk!!!
Museum Tsunami Aceh
Tepat pukul 7: 58 :53 WIB minggu pagi ,26 desember 2004, bumi serambi Mekah diguncang  gempa berkekuatan 8,9 SR yang menyebabkan terjadinya tsunami dan menelan lebih dari 200 ribu orang meninggal. Banyak dari masyarakat Aceh kehilangan sanak saudara bahkan musibah ini menimbulkan kerusakan yang begitu besar di wilayah Aceh dan sekitar. Tentu saja peristiwa ini begitu melekat dalam ingatan kita terutama masyarakat Aceh sendiri yang langsung merasakan musibah tersebut. Untuk mengenang tragedi Tsunami ini  Pemerintah Indonesia dengan didukung berbagai pihak  terkait membangun sebuah museum yaitu Museum Tsunami.
Konsep Bangunan
dinding tsunami
Relief Melambangkan Tari Saman Gayo dan Persahabatan
Museum yang terdiri dari 3 lantai dan 1 lantai dasar ini memiliki konsep rancangan yang sesuai dengan budaya Aceh. Judul rancangan “Rumoh Aceh” as Escape Hill ini menggabungkan konsep escape building hill atau bukit untuk menyelamatkan diri, sea waves atau analogi amuk gelombang tsunami, tari tradisional saman, cahaya ALLAH, serta taman terbuka berkonsep masyarakat urban. Konsep tari saman dan persahabatan terlihat pada Relief atau ukiran pada bangunan.

Jam Operasional
Museum dibuka pada hari senin-kamis dan sabtu-minggu dari pukul 9.00-12.00 dan 14.00-16.30. Sedangkan Hari Jumat museum tidak dibuka. Untuk masuk kemari tidak diperlukan tiket dan tidak dikutip biaya apapun juga. Kecuali untuk menyaksikan empat dimensi diperlukan tiket namun tidak dipungut biaya.
Kolam
Bagian inti dari gedung museum ini terdapat di Lantai dasar dan Lantai 2. Lantai satu merupakan area terbuka yang dilengkapi dengan kolam ditengahnya.
Prasasti Batu disekeliling kolam
Disekeliling kolam terdapat beberapa prasasti berupa batu bulat yang bertuliskan Negara-negara yang memberikan bantuan pada saat terjadi bencana di Aceh.
Lobby
Di lantai ini juga terdapat lobby dengan sejumlah kursi dan meja yang disediakan bagi pengunjung yang ingin bersantai. Semilir angin sejuk kerap menyapa kulit sehingga membuat kita betah lama-lama berada di sini. Dari belakang gedung kita dapat melihat pemandangan kuburan Belanda atau Kerkhoff Peutjut.
Kuburan Belanda (Kerkhoff Peutjut)
Pintu masuk terdapat di lantai satu, sebelum masuk setiap pengunjung diwajibkan mengisi buku tamu terlebih dahulu. Dari pintu masuk ini kita akan menuju lantai dasar dengan melalui “lorong tsunami” yang merupakan lokasi untuk mengenang kejadian tsunami di Aceh.
Lorong tsunami
Ketika melewati lorong ini, pengunjung akan dibuat sedikit merinding, dimana suasana di lorong ini sedikit gelap, hanya diterangi oleh beberapa lampu saja yang menerangi jalan dan akan terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-quran. Kedua sisi dinding lorong begitu tinggi dan dibasahi oleh air (water fall) yang melambangkan kejadian ketika air bah tsunami datang. Seketika juga tubuh kita akan dibasahi oleh percikan air-air ini.
Seorang pengunjung sedang melihat “Memoriam Hall”
Setelah melewati lorong tsunami, kita akan menuju “Memoriam Hall” yang berisi rangkaian peristiwa dari berbagai daerah Di Aceh yang diterjang tsunami. Semuanya disajikan dalam bentuk photo sliding.
Nama-nama korban tsunami di dinding sumur doa
Dari sini kita akan dibawa menuju “Sumur Doa” (Chamber Of Blessing), dimana terdapat nama-nama korban tsunami yang telah berhasil diidentifikasi. Kita dapat mengirimkan doa kepada para korban disini. Ruangan ini berbentuk teropong yang menjulang tinggi ke atas dan dilangit ruangan sumur doa ini kita akan melihat tulisan berlafaskan ALLAH.
Langit sumur doa bertuliskan Lafas ALLAH
Keluar dari sumur doa kita melewati “lorong Kebingungan” .  Lorong ini mengambarkan suasana masyarakat yang kebingungan ketika musibah tsunami dating. Kebingungan mencari sanak saudara yang hilang dan kebingungan dalam mencari tempat untuk menyelamatkan diri dari musibah.
Tampak “Lorong kebingungan” dari atas
Makin jauh kita menulusuri lorong, semakin terang lorong yang kita temukan. Ini mengandung arti bahwa, masyarakat yang tadinya kebingungan mendapatkan setitik cahaya terang dan pertolongan untuk dapat keluar dari musibah ini. Di ujung lorong kita akan bertemu sebuah jembatan yang dinamakan “Jembatan Perdamaian”.
Jembatan Perdamaian
Jembatan ini menggambarkan Aceh setelah tsunami yang berdamai dari konflik. Jika kita melihat ke bagian atas jembatan, terdapat tulisan kata “Damai” dalam beberapa bahasa asing. Yaitu dalam bahasa Negara-Negara yang memberikan bantuan pada Aceh. Antara lain, Negara Arab Saudi (Assalammualaikum), Hongaria (Beket), dan Perancis (Palx). Jembatan ini pula yang akan membawa kita menuju lantai 2.
Kata “Damai” dari beberapa Negara yang membantu Aceh.
Pemandangan dari atas jembatan

Dari jembatan ini kita dapat menikimati suasana lantai 1, hamparan kolam di bawah jembatan, juga tampak luar bangunan Sumur Doa.
Sesampainya di lantai 2, kita akan disambut oleh sebuah lobby bagi pengunjung yang akan beristirahat sejenak setelah melewati lorong kebingungan dan jembatan yang sedikit menanjak. Fasilitas yang disediakan berupa beberapa set kursi, TV, dan miniatur bangunan museum tsunami. Di sisi kanan lobby terdapat ruang audiovisual untuk pemutaran film peristiwa gempa tsunami Aceh.
Miniatur Bangunan Tsunami
Pada lantai ini terdapat beberapa ruangan yang berisi rekam jejak kejadian tsunami 2004 lalu. Yaitu ruang pamer tsunami, pra tsunami, saat tsunami dan ruang pasca tsunami. Beberapa gambar peristiwa tsunami, artefak-artefak jejak tsunami, dan diorama ditampikan di lantai ini. Seperti diorama kapal nelayan yang diterjang gelombang tsunami dan diorama kapal PLTD Apung yang terdampar di Punge Blang Cut.
Diorama yang menggambarkan saat tsunami datang
Lantai terakhir atau paling atas berisi media-media pembelajaran (edukasi) berupa perpustakaan, ruang alat peraga, ruang 4D (empat dimensi), dan souvenir shop. Beberapa alat peraga yang ditampilkan antara lain, rancangan bangunan yang tahan gempa, model diagram patahan bumi. Bila ingin merasakan gempa dengan berbagai tingkat kekuatan, silahkan mencoba di bangunan simulasi gempa atau shaking table. Tingkatan kekuatan yang dapat dirasakan dari vertical level 3-8 dan horizontal 3-8. Fasilitas pendidikan lainnya yang disajikan yaitu Bumoepedia dan beberapa panel yang berisi pengetahuan tentang bumi dan gempa.
Bangunan simulasi  tahan gempa
Untuk ruangan 4D sendiri tidak ada gambar yang dapat saya abadikan, karena pengunjung tidak diperbolehkan menggunakan kamera Hp maupun Kamera Digital dan lainnya selama berada di dalam ruangan ini.Yang paling penting, ibu hamil dan bagi pengunjung yang menderita penyakit jantung dilarang melihat film 4D ini. Durasi film ini adalah 16,38 menit dengan kapasitas tempat duduk 24 kursi.
Jadwal pemutaran film 4D:
Senin – Kamis : Termin 1 jam 10, termin 2 jam 11.
                               Termin 3 jam istirahat tidak dibuka.
                               Termin 4 jam 14.30, termin 5 jam 15.30.
Jumat               : Libur
Sabtu dan Minggu : Termin 1 jam 10, termin 2 jam 11.
                                        Termin 3 jam 11.30, termin 4 jam 14.30.
                                        Termin 5 jam 15.30 dan termin 6 jam 16.00.
Untuk mendapatkan tiket 4D ini saya harus rela mengantri dari pukul 10 pagi sampai jam 2 siang, dan itu untuk jadwal tontonan pukul 2.30. Bisa teman-teman bayangkan, betapa antusiasnya pengunjung yang ingin menyaksikan 4D ini. Bahkan ada dari sebagian pengunjung untuk melihat tayangan 4D pada term 1 (pukul 10 pagi), mereka sudah mengantri depan loket sejak pukul 7 pagi, terutama di hari libur, kebanyakan yang mengantri adalah anak-anak.
Film 4D yang ditayangkan merupakan sebuah film yang menceritakan tentang sebuah kota di Jepang. Kota tersebut awalnya indah, lautannya begitu jernih dan banyak biota laut yang hidup dan tumbuh subur di dalamnya. Namun suatu hari ada bencana datang melanda, yaitu gempa dan tsunami yang akhirnya memporak-porandakan isi kota dan merenggut nyawa para penduduknya. Berbagai efek gempa dan tsunami dapat kita rasakan, tidak hanya dari film tersebut, namun dari kursi dan ketika tsunami datang akan terasa percikan air yang datannya entah dari mana.
Area pertunjukan
Bagian atap gedung juga dimanfaatkan. Atap yang merupakan sebuah ruangan terbuka ini didesain sebagai ruang penampung (shelter) pada saat terjadi bencana. Namun, bangunan belum rampung dan masih merupakan pembangunan jangka panjang, sama halnya dengan pembangunan taman.
Pada sisi kiri gedung terdapat sebuah resto yang tergabung dengang musala dan toilet yang terletak di bagian belakangnya. Di sisi ini juga terdapat sebuah area terbuka dengan jejeran tempat duduk dan sebuah panggung yang terbuat dari semen, yang berfungsi sebagai area pertunjukan.
Tampak belakang gedung
Bagi para pengunjung yang membawa kendaraan pribadi, disediakan tempat parkir yang terletak di bagian depan dan belakang gedung. Bagi kendaraan roda empat seperti mobil pribadi dan bus wisata dapat parkir di bagian belakang gedung.
Share this article :

0 komentar:

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Visit Aceh - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Fuad Heriansyah
Copyright ©