Headlines News :
Home » » Menara Air Banda Aceh

Menara Air Banda Aceh

Written By Fuad Heriansyah on Thursday, June 4, 2015 | 6:17:00 PM

Peninggalan Belanda Yang Terus Kokoh di Tengah Kota


Menara Air (Water Toren) di Banda Aceh.
Hak gambar pada SafarManaf. Nokia N70.
Menara air ini terletak di tepi jalan Balai Kota, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Baiturrahman Kota Banda Aceh, bersebelahan dengan Taman Sari, tak jauh dari bekas tapak Hotel Aceh di depan Mesjid Raya Baiturrahman, beberapa ratus meter dari Gunongan. Menara ini adalah peninggalan colonial Belanda. Dalam bahasa Belanda disebut Water Toren. Menurut info dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Aceh bangunan ini didirikan pada tahun 1880. Saat ini sudah tidak berfungsi. Bagian datar bangunan berbentuk bundar dan mempunyai sebuah pintu yang terbuat dari kayu dan menghadap ke arah barat. Bagian pintu ini dibuat menonjol dan berbentuk gerbang dengan bentuk limas. Atap bangunan terbuat dari seng yang berbentuk kubah, pada bagian atas atap terdapat kemuncak berbentuk segi enam. Pada bagian depan pintu kurang lebih 3m terdapat bak dari beton yang didalamnya di jumpai instalasi pipa air kurang lebih 2m dari permukaan tanah.
Bentuknya, mirip dengan menara air di Medan Sumatera Utara dan Water Toren (menara air) di Magelang, yang juga adalah peninggalan Belanda, yang menunjukkan keseriusan mereka dalam pengelolaan air. Sekarang bangunan peninggalan Belanda di Magelang tersebut telah menjadi City Landmark dari kota Magelang.
Wilayah sekitar menara air Banda Aceh ini pernah dipergunakan oleh beberapa mekanik sebagai tempat usaha, namun pada awal 2012, para mekanik itu sudah tak terlihat lagi. Masyarakat di sekitar sana Cuma mengenal bangunan ini dengan nama Menara Air.
Replika Kapal Hang Tuah, Muzium Samudera
Melaka, Malaysia.
(sumber, klik di sini)
Karena setiap bangunan mempunyai nilai tersendiri, maka patut untuk dijaga dengan baik, dengan juga memperhatikan aspek-aspek lain seperti faktor ancaman terhadap keselamatan manusia dan alam sekitar bangunan itu, juga, tata ruang kota. Namun, bangunan-bangunan lama seumpama peninggalan sejarah seperti ini, amat sangat berharga bagi pariwisata, sehingga disarankan “tata ruang kota” justru memihak pada bangunan-bangunan lama ini. Di Malaysia, khususnya di Melaka, bangunan-bangunan bersejarah peninggalan masa lalu tetap tegak bersama dengan modernisme. Di sana, kita masih bisa menjumpai Gereja Pertama yang dibangun di Asia Tenggara oleh Pemerintahan Belanda yakni Gereja St. Peter (dibangun tahun 1710M), juga replica kapal Hang Tuah yang berdiri megah di tengah kota sebagai bagian dari Muzium Samudera. Modernisasi dan sejarah membaur di kota ini, sesuatu yang mampu membawa orang dari berbagai belahan dunia untuk datang.
Tower PDAM di Taman Sari, tinggal kenangan.
(klik di sini untuk sumber gambar)
Satu bangunan yang menyimpan nilai sejarah juga terletak di kompleks Taman Sari di Banda Aceh, yang juga berkaitan dengan perairan adalah Tower PDAM. Menara PDAM itu dirubuhkan dengan bom pada Selasa (20/3) sekitar pukul 15.45 WIB, dengan disaksikan RIBUAN warga Kota Banda Aceh. Tower PDAM yang dibangun pada tahun 1981 ini dinilai tidak layak lagi sehingga dikhawatirkan dapat membahayakan, terlebih lagi setelah mengalami kerusakan akibat musibah gempa bumi dan tsunami 2004. Peledakan tower setinggi 45 meter itu dibiayai badan dunia bidang pembangunan, UNDP, bekerja sama dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Banda Aceh. Perubuhan menara ini menghabiskan dana miliaran rupiah.Wali Kota Banda Aceh Mawardy Nurdin mengatakan, bekas areal tower tersebut akan dijadikan sebagai perluasan Taman Sari dengan dibangun sebuah tugu tsunami. "Kita akan jadikan monumen Tsunami, gambarnya sedang kita desain, nanti akan menjadi bagian taman ini," demikian Mawardy.
Share this article :

0 komentar:

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Visit Aceh - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Fuad Heriansyah
Copyright ©