Headlines News :
Home » , » Perantau Aceh Penuh Keakraban

Perantau Aceh Penuh Keakraban

Written By Fuad Heriansyah on Tuesday, December 25, 2012 | 11:51:00 AM

Kawasan Sunway Mentari, Selangor, Kuala Lumpur

Kuala Lumpur - Bertemu warga Aceh di Kuala Lumpur, Malaysia, rasa keakraban dan kekeluargaan sangat jelas terlihat. Apalagi, warga Aceh itu sudah lama tinggal di Malaysia untuk bekerja, sehingga ingin mengetahui perkembangan Aceh pasca damai RI-GAM 15 Agustus 2005 lalu.
Ketika kami berkunjung ke Kawasan Bandar Sunway, Mentari, Malaysia, tampak sejumlah warga Aceh sedang bekerja menjual barang-barang kelontong di rumah toko (ruko) dan dikedai serta menjadi tukang pangkas bahkan pekerja pabrik. Mereka semua berasal Aceh Utara, Lhokseumawe, Bireuen dan Sigli.
Awalnya, Kami tidak mengetahui jika tiga warga itu dari Aceh. Namun wartawan koran ini tampak tidak asing saat berada di ruko tempat mereka menjual barang-barang kelontong. Lalu mereka menanyakan berasal dari mana cek, kami menjawab asal Aceh.
Kemudian, tiga warga itu mengatakan, bahwa mereka juga berasal dari Aceh sehingga kami pun berbahasa Aceh sesama warga tersebut. Mereka menyambut tamunya dan menawarkan air minum saat berada di ruko tempat berdagangnya. Rasa keakraban dan keluargaan pun sangat jelas terlihat, seperti sudah lama tidak berjumpa, padahal baru sehari bertemu mereka.
Yang menjadi pertanyaan pertama warga Aceh itu, kepada kami adalah bagaimana keadaan Aceh saat ini. Lalu Rakyat Aceh, mengatakan, Aceh sudah aman, damai dan tidak ada kontak senjata lagi serta sudah banyak kemajuan dari sektor pembangunan di Aceh. Dan mereka juga berharap, masyarakat Aceh harus dapat mempertahankan perdamaian yang sudah tercapai itu, sehingga tidak terganggu mencari rezeki dan tidak seperti zaman konflik silam.
“Saya sudah dua tahun berada di Malaysia, awalnya diajak oleh teman untuk bekerja di Malaysia ditempat jual barang-barang kelontong,” ucap salah seorang pedagang yang berasal dari Aceh Utara ini.
Kata dia, bekerja di Malaysia lebih enak, walaupun hanya menjual barang kelontong dan menjadi tukang pangkas. “Uang disini lebih berharga ketimbang uang rupiah, karena dalam satu ringgit Malaysia itu sekitar Rp 3.000,” ungkapnya, seraya menambahkan, dalam sebulan dia bisa mengirimkan uang kepada orang tuanya di kampung Aceh Utara, mencapai Rp 2 juta.
Lain halnya yang disampaikan Nur salah seorang ibu rumah tangga asal Lhokseumawe, yang sudah lama pulang pergi Aceh-Malaysia. Dia bekerja disalah satu pabrik di sana untuk memenuhi kebutuhan keluarga di Aceh. Nur mengisahkan, jika bertemu warga Aceh di Malaysia, memang seperti saudara atau family sendiri, karena sama-sama berada di perantauan.| Atjehcyber
Share this article :

0 komentar:

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Visit Aceh - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Fuad Heriansyah
Copyright ©