Headlines News :
Home » , , » "Rumoh" Aceh yang Kian Hilang

"Rumoh" Aceh yang Kian Hilang

Written By Fuad Heriansyah on Monday, April 8, 2013 | 10:43:00 PM

Seperti rumah-rumah tradisional lain di Asia Tenggara, rumoh Aceh atau rumah Aceh berupa rumah panggung. Tidak sekadar sebagai hunian, rumoh Aceh juga menyiratkan budaya dan tata cara hidup orang Aceh yang kaya makna.

Menurut penelitian Snouck Hurgronje sebagaimana terdapat dalam The Achehnese, 1893, rumoh Aceh secara tradisional terdiri dari tiga atau lima ruang, dengan satu ruang utama yang dinamakan rambat. Rumoh dengan tiga ruang memiliki 16 tiang, sedangkan rumoh dengan lima ruang memiliki 24 tiang.

Modifikasi dari tiga ke lima ruang atau sebaliknya bisa dilakukan dengan mudah, tinggal menambah atau menghilangkan bagian yang ada di sisi kiri atau kanan rumah. Bagian ini biasa disebut sramoe likot atau serambi belakang dan sramoe reunyeun atau serambi bertangga, tempat masuk ke rumah yang selalu berada di sebelah timur.

Orientasi rumah selalu dari timur ke barat, yaitu bagian depan menghadap ke timur dan sisi dalam atau belakang yang sakral berada di barat. Hal ini terkait dengan kepercayaan Islam yang melekat sejak lama di Aceh, yaitu arah ke Mekkah (ke arah barat dari Aceh) menjadi orientasi. Penambahan ruang selalu dilakukan di sisi utara atau selatan.

Elemen penting pada rumah Aceh adalah pintu utama rumah yang tingginya selalu lebih rendah dari ketinggian orang dewasa. Biasanya ketinggian pintu ini hanya 120-150 cm, sehingga setiap orang yang masuk ke rumah Aceh harus menunduk. Tak peduli betapa tinggi derajat atau kedudukan pengunjung, setiap masuk rumah harus menunduk, tanda hormat.

Namun, begitu masuk, kita akan merasakan ruang yang sangat lapang karena di dalam rumah tak ada perabot berupa kursi atau meja. Semua orang duduk bersila di atas tikar ngom (dari bahan sejenis ilalang yang tumbuh di rawa) yang dilapisi tikar pandan. Seringkali pintu rumah Aceh ini diibaratkan hati orang Aceh. Sulit untuk memasukinya, tetapi begitu kita masuk akan diterima dengan lapang dada dan hangat.

Bagian bawah rumah atau yup moh juga memiliki peran penting. Selain untuk mengantisipasi banjir dan ancaman binatang buas, yup moh juga bisa menjadi kandang ayam, kambing, dan itik. Dan bagian yang selalu berada di yup moh adalah jeungki atau penumbuk padi dan krongs atau tempat menyimpan padi berbentuk bulat dengan diameter dan ketinggian sekitar dua meter.

Di sejumlah wilayah, yup moh juga digunakan kaum perempuan untuk membuat kain songket Aceh, seperti ditemui di Aceh Besar.

Pembangunan rumoh Aceh juga tak sembarangan. Harus dipilih hari yang tepat, yang biasanya ditentukan oleh teungku (ulama) setempat. Kenduri yang di dalamnya selalu ada peusijuk atau upacara tepung tawar dilakukan sejak tiang rumah pertama mulai dipancangkan.

Kayu merupakan bahan utama rumah Aceh. Semua tiang utama terbuat dari kayu bulat pilihan, dinding dan lantai rumah juga dari papan kayu, serta atap dari daun rumbia atau daun pohon sagu. Struktur utama bangunan dari kayu-kayu pilihan, yang dibangun tanpa menggunakan paku ini, bisa bertahan hingga 200 tahun. Namun, masalah bahan baku kayu ini pula yang membuat rumah Aceh kini sulit dibangun lagi.

Transformasi
Rumoh Aceh hingga kini masih bisa ditemui di desa-desa di kawasan pantai timur, mulai dari Aceh Timur hingga Aceh Besar. Namun, jumlahnya terus berkurang. Tak ada survei pasti mengenai jumlah rumoh Aceh yang masih tersisa, tetapi Kabupaten Pidie sepertinya menyisakan rumoh Aceh dengan jumlah paling banyak.

Di Banda Aceh sendiri, rumoh Aceh telah musnah disapu tsunami. Di kawasan Lambung, Kecamatan Meuraxa, dan Kampung Jawa, Kecamatan Kutaraja, sebelum tsunami ada sejumlah rumoh Aceh. Di Kampung Jawa, Muslim Aid mencoba membangun kembali rumah untuk korban tsunami, dengan bentuk mengadopsi rumoh Aceh.

Namun, rumah bantuan ini banyak dikeluhkan warga karena kualitas bahan yang buruk, misalnya tiang dari batang kelapa. Belum setahun dibangun, banyak rumah yang rusak. Bahkan, seorang warga di Kampung Jawa menghancurkan rumah bantuan itu karena kualitasnya dinilai tak memuaskan.

Organisasi nonpemerintah yang lain, misalnya Up Link, mencoba memodifikasi prinsip rumah panggung dari arsitektur lokal rumoh Aceh dalam desain rumah bantuan panggung yang terdiri dari dua lantai dengan bahan dari beton. Warga korban tsunami banyak yang memodifikasi bagian bawah rumah atau yup moh rumah bantuan untuk berbagai fungsi, seperti warung atau kios.

Namun, hampir semua rumah bantuan baru, termasuk yang dibangun oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias, berupa rumah modern dari tembok atau papan yang tak mengindahkan arsitektur lokal.
Oleh : Ahmad Arif
Share this article :

0 komentar:

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Visit Aceh - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Fuad Heriansyah
Copyright ©