Headlines News :
Home » » Songket Aceh Untuk Muslim Eropa

Songket Aceh Untuk Muslim Eropa

Written By Fuad Heriansyah on Tuesday, July 2, 2013 | 8:11:00 AM


Panggung busana muslim kini semakin diramaikan dengan busana-busana tertutup yang terbuat dari kain-kain tradisional. Hal ini membuktikan bahwa kain tradisional kini lebih fleksibel diolah menjadi beragam busana yang memukau. 

Perhelatan Jakarta Islamic Fashion Week 2013 (JIFW) pada Kamis (27/6/2013) lalu, menghadirkan dua fashion show dari tiga desainer yaitu Sonny Muchlison, Nuniek Mawardi, dan Samuel Wattimena. Dua inspirasi busana muslim dari kain tradisional dihadirkan oleh Sonny dan Samuel. Dalam fashion show-nya kali ini, Sonny memilih tema It's Good to Remember. 

"Semua busana yang saya hadirkan ini terinspirasi pada keeleganan tokoh muslimah Indonesia di masa lalu dengan gaya berkerudung mereka. Saya juga ingin mengenang zaman-zaman Ibu Fatmawati Soekarno yang menggunakan kerudung putih," jelas ,saat konferensi pers di Jakarta Convention Center, Senayan, Kamis (27/6/2013) lalu.

Sonny mengungkapkan bahwa tokoh-tokoh muslimah seperti Ibu Fatmawati Soekarno, Zakiyah Daradjat, atau Yenny Wahid di era sekarang, memberi inspirasi gaya berkerudung yang bersahaja dan ringan namun tetap cantik. 

"Sekarang ini banyak hijabers yang memilih menggunakan kerudung yang rumit dan banyak lilitan, tapi justru ini menghalanginya untuk beribadah," tambahnya. 

Sonny menghadirkan 24 koleksi busana kebaya kutu baru, kebaya Kartini, dan baju kurung yang dimodifikasi dalam bentuk blazer dengan jahitan yang clean dan neat. Sebagian koleksi dipadukan dengan rok dan celana panjang, selebihnya dipadukan dengan sarung tradisional dari seluruh wilayah Indonesia. Ia mengaku bahwa kebanyakan kain yang digunakannya adalah songket Aceh. 

Sedangkan untuk busana prianya, Sonny terinspirasi dari busana muslim yang terdiri atas kemeja, semi jaket, dan jaket dengan model kerah Nehru. Semua ini terlihat selaras saat dipadukan bersama celana panjang dan sarung dari kain tapis. 

Jika Sonny menghadirkan busana laki-laki dan perempuan, maka Samuel Wattimena hanya menghadirkan koleksi busana untuk pria saja. Ia menunjukkan totalitasnya dalam sebuah karya yang bertema Faith, Hope, and Love. Koleksi yang berjumlah 40 outfit ini menggambarkan sisi filosofis Indonesia. 

Samuel memberi kesan busana yang lebih eklektik (garis vertikal percampuran motif) sehingga terkesan lebih maskulin. Busana yang dihadirkannya lebih didominasi gaya androgini seperti semi jaket, coat, kemeja, dan kaus. Beberapa model busananya diberi aplikasi potongan kain tradisional dan juga sulaman. 

Tak cuma itu, pria yang disapa Sammy ini juga membuat baju dengan kain-kain songket, tenun, dan juga batik.  "Saya tidak menggunakan banyak aplikasi batu atau detail lainnya. Karena saya ingin menonjolkan dan memberi ruang pada kain tradisional agar terlihat lebih menonjol dibanding detail lainnya. Lagipula, kain-kain ini sudah indah kok," puji Sammy.

Indonesia memang bisa memberi banyak inspirasi dari kekayaan kain dan budayanya. Namun, untuk memberi inspirasi berbusana muslim yang sedikit berbeda, Nuniek Mawardi menambahkan sentuhan Eropa dalam koleksinya. Koleksi yang bertema Romantic Imperium ini ini diambil dari salah satu tren mode dunia, Traditional Revolution

"Kalau semua desainer sudah menonjolkan kain Indonesia, maka saya tidak ingin semua desainer seperti seragam pakai kain ini. Saya hanya ingin membantu konsumen untuk mendapatkan pilihan yang lain," kata Nuniek Mawardi. 

Nuniek bereksplorasi dengan tampilan busana ala monarki Eropa yang dipadukan dengan beragam bordir khas Indonesia, dan karakteristik manipulasi kain, serta teknik cross stitch. Hal ini diakuinya merupakan perwujudan dari akulturasi budaya dalam desainnya. 

Untuk mempercantik koleksinya Nuniek juga menambahkan detail dari lace, bordir Tasik, teknik bordir yang disebut cornely (bordir dengan aksen timbul dari benang yang terjalin di atas bahan sisa produksi, sehingga lebih ramah lingkungan). Tak ketinggalan ia juga menggunakan teknik reka bahan yang menjadi ciri khasnya. 

Bahan-bahan yang digunakannya antara lain velvetfur, organza silk, dan sutera silk dengan dominasi warna pastel yang lembut. 

"Dalam koleksi ini saya juga memperkenalkan busana ramah lingkungan. Sisa-sisa produksi ini bisa dipergunakan sebagai detail yang mempercantik busana, atau sebagai hiasan kepala," imbuhnya. 

Share this article :

0 komentar:

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Visit Aceh - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Fuad Heriansyah
Copyright ©